by

Setangkup Haru dalam Rindu untuk Yogyaku

-Wisata-212 views

oyotem.info. Setangkup Haru dalam Rindu untuk Yogyaku. Pulang ke kotamu, menjadi awal lirik lagu Yogyakarta, kota yang penuh dengan kenangan, kota yang menjadi tiang pondasi pendidikan di Indonesia, kota yang sarat budaya, dan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia.

Lagu dari Kla Project terus bergaung didalam kabin mobilku saat mengantarkan istri berangkat ke kantornya Lagu tersebut juga mengingatkanku pada sosok almurhumah nenek, yang telah meninggal dunia satu tahun lalu.

“Le, mbok sedurung simbahmu iki dipundut sang pencipta, simbahmu di ajak muleh neng kampung halamanne almarhum mbah kakungmu, neng KulonProgo.”

Yang jika di artikan dalam bahasa indonesia “le, sebelum nenek dipanggil yang maha pencinta, ingin sekali nenek di ajak untuk pulang ke kampung halaman kakek di KulonProgo

Yah, Kakekku berasal dari KulonProgo, dekat dengan Gereja Santa Theresia Liseux Boro, yang merupakan gereja Katolik tertua di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sedangkan Nenek berasal dari Blitar, Jawa Timur. Namun di Blitar sudah tidak memiliki kerabat, karena sejak zaman Penjajahan Jepang nenek dibawa ke Lampung oleh Kakek Buyutku.

Rasanya baru kemarin kalimat permintaan nenek tergiang dalam telingaku, namun tidak terasa hal tersebut ternayta sudah setahun berlalu, dan sampai saat ini aku sama sekali belum bisa membawa nenekku untuk berkunjung ke Kulonprogo, Yogyakarta hingga saat nenek tutup usia.

Hening, tak ada yang ikut menyanyikan lagu “Yogyakarta” mungkin saat ini pikiran istriku, dan anakku dipenuhi oleh imajinasinya masing-masing, termasuk keinginan untuk bisa ke Yogyakarta yang sudah dua tahun ini hanya menjadi pepesan kosong, lantaran Covid-19 melanda dunia.

Tak hanya keinginan dari nenek, namun juga istri yang sudah lama tidak menginjakkan kakinya di kota gudeg, sudah hampir 7 tahun karena terakhir ke Yogyakarta saat hamil anakku yang sekarang sudah berumur 6 tahun lebih.

Hanya sebuah cerita yang bisa kami sampaikan kepada anak lelakiku, yang selalu bertanya apa itu Yogya, kenapa dengan Yogya, kenapa mbah uyut sering minta ke Yogya, kenapa mami (panggilan anakku ke ibunya) juga selalu ingin ke Yogya.

Yogya ada setangkup haru dalam rindu, mungkinkah masih seperti dulu, di tiap sudut menyapaku bersahabat? entahlah namun itu hanyalah keinginan dan harapan yang sepertinya akan sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat.

Serangan zombie tak kasat mata terus menyerang Indonesia, itu kata anakku tentang covid-19, hampir seluruh wilayah di Indonesia menerapkan PPKM tak terkecuali Lampung dimana saat ini kami tinggali, dan saat cerita ini ku tulis, Lampung sendiri masih menerapkan PPKM Level 4 yang terus diperpanjang. Mungkin Yogyakarta juga sedang menerapkan PPKM.

Lagu Yogyakarta menghantarkan pagi kami hari ini, dengan kesunyian, sesunyi jalanan protokol Kota Bandar Lampung karena banyaknya pembatasan dimana-mana. Istri hanya menghela nafas sesekali seperti menyesak dalam dada nya, dengan nafas yang kembang kempis, tampak sekali persimpangan langkah kami selalu terhenti sulit sekali untuk ke Yogyakarta lagi.

Ya, Istriku memang berdarah Jawa Tengah, karena ibu mertua lahir dan besar di Wonogiri, dimana kampungnya saat ini telah menjadi Waduk Gajah Mungkur, sebuah sejarah kehidupan dimana tak kurang dari 51 desa ditenggelamkan dan lebih dari 13.000 kepala keluarga dipindahkan ada yang transmigrasi ke Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan dan juga Lampung.

Yogya sendiri selalu menjadi bagian yang tak bisa aku pisahkan dari perjalanan hidup dan karirku hingga saat ini. Bukan hanya kenangan, namun juga membawa perjalanan karirku di dunia NGO (Non Government Organization) atau banyak yang mengenalnya Lembaga Kemanusiaan.

Karena kota inilah yang menjadi Kota Pertama diluar lampung sebagai pelabuhan tempatku bekerja meski tidak dalam waktu yang lama, kala itu gempa meluluhlantakkan Yogya dan aku ditugaskan untuk membantu recovery bencana. Yogya yang berduka, disaat itulah aku berada bersama dengan warga Yogya, aku ikut membantu recovery bencana.

Aku sendiri, memang kurang mengenal Yogyakarta jika dibandingkan mengenal Lampung sebagai tempat lahirku, namun beberapa kali setelah gempa Yogya, aku masih sempat mamir ke Yogya walau hanya sebentar, itu juga karena ada kegiatan di Semarang.

Sudah hampir 2 tahun ini, pandemi covid-19 tampaknya belum bersahabat dengan kami. Sehingga menghambat mobilitas masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Banyak harapan dan keinginan kami tertunda bahkan bisa dikatakan hampir semua rencana liburan tahunan batal semua karena Covid-19.

Padahal keiginan kami hanya sederhana, bisa kembali berkunjung ke Yogyakarta, menyusuri jalanan Malioboro, untuk sekedar mencari merchandisenya Yogya, juga kulinernya, bisa berkunjung ke keraton, juga bisa menikmati indahnya pantai-pantai di Yogyakarta.

Selain satu hal yang harus di jalankan yakni keinginan Nenek yang belum terwujud, sebisa mungkin kami wujudkan meski nenek sudah tidak bersama kami lagi secara raga, namun kami yakin jiwa nenek akan terus berada mendampingi kami. Dan kami yakin jika pandemi ini usai, kami pasti akan ke Yogyakarta.

Masih dalam keheningan dalam mobil yang ditemani oleh lagu Yogya yang sudah hampir selesai, tiba-tiba anakku nyletuk berkata, “Pi, Mi kapan kita ke Yogya?” jauh ya dari Lampung? trus kita mau kemana aja ya jika sudah di Yogya? nanti kalo ke Yogya kita menginap dimana? di rumah Mbah yang lain? (maksudnya adalah adiknya mbah kakung yang tinggal di Kulonprogo)

Lalu, istri yang sejak tadi diam pun kemudian bereaksi, menjawab satu persatu pertanyaan anak kami yang masih kelas 1 SD.

“Yah kita pasti akan ke Yogya, setelah covid-19 sudah hilang, disana kita bisa jalan-jalan di tempat-tempat yang indah, menarik, dan juga ke lokasi bersejarah, kita bisa menginap di penginapan seperti RedDoorz karena Reddorz harganya murah dan terjangkau, bersih dan juga nyaman sehingga bisa mengakomodir rombongan kita ke Yogyanya nanti, jadi pasti butuh banyak kamar, dan mami ingin sekali ke Candi Prambanan dan Candi Borobudur jika nanti kita ke Yogyakarta” jawab istriku sumringah.

Seperti ada harapan baru ada semangat baru, secercah senyuman tersungging dari sudut bibirnya, dengan mata terpejam Istriku mencoba untuk menikmati detik-detik terakhir lagu Yogyakarta.

Dan tak beberapa lama kemudian, kami sudah sampai di depan pintu salah satu pabrik di Lampung dimana istriku bekerja disitu sebagai salah satu karyawannya. Iapun bersiap turun, mencium anakku, juga pipiku, sambil membisikkan kalimat “Nabung ya Pi, Cari Hotel di Kota Yogyakarta, ya!”

“Asyikk kita ke Yogyakarta!” seru Anakku.  Itulah Setangkup Haru dalam Rindu untuk Yogyaku, Kami pasti akan datang ke Yogyakarta. Kalau kamu setelah pandemi covid-19 usai, mau kemana? kemanapun tujuan kamu, pastinya menginap di RedDoorz ya!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed